Resital di penghujung waktu
Resital di penghujung waktu
Ugh!
Aku ternyata masih di sini. Terjebak dalam semesta langut yang
membuyarkan antara degup mimpi dan realita. Sementara pagina di depanku
masih berteriak-teriak protes telah ditelantarkan. Wajar saja, sedari
tadi aku seperti manusia geje yang membiarkannya nelangsa merintih di
samping telingaku. Padahal akulah yang begitu riang ria memungutnya
lebih dulu dengan penuh cinta di awal pertemuan. Semenjak jasadku masih
saja bermusuhan dengan metabolisma. Tampaknya sinkronisasi kedua
bersaudara ini benar-benar terlihat susah berjabat-erat seperti
biasanya.
Satu,
dua cangkir teh hangat masih belum berhasil melepaskanku dari tahanan
memorial-amorus. Ini sruputanku yang terakhir di cangkir ketiga. Namun
Koko masih begitu setia menawarkan cangkir keempat.
“Nambah lagi Mas?”
Satu
jempol cukup menjawab tawarannya. Serta merta diikuti dengan deretan
kombinasi gigi dan gusiku yang langsung terefleksi di raut mukanya yang
oval.
“He hee..”
“He heee..”
Entahlah,
sepertinya pintu-pintu eskapis begitu sigap menyatu dengan tembok. Tak
terhitung sudah berapa kitar putaran yang telah ku buat dalam meiza
ini. Purnama juga tidak terlihat memanggil-manggil seperti biasanya.
Cuma tersenyum. Membiarkan aku terus keluarkan delak demi delok dalam
wajah bloonku yang sok manja bertopang tangan. Sebel juga sih. Banged
malah.
“Kapan dia mau datang, Mas?”
Satu cangkir teh hangat kembali terhidang. Koko langsung mengambil posisi pewe termutakhir untuk
menghadang jawabanku. Di bawah sebuah pohon kecil bernyamuk yang selalu
turut rembuk diapun menelikung kakinya. Di lantai yang cukup dingin.
Dengan tangan kanan mengudara dan sebuah batang berasap terselip dengan
lentik. Tangan kirinya mencoba bercumbu dengan tanah.
Satu
kepul… dua kepul.. Menyertai detik ke perjalanan sepertiga malam.
Jawaban masih enggan melepaskan diri dari selimut-bibir ini. Entah
enggan atau memang kosong. Yang jelas pertanyaan seperti itu membuatku
semakin ‘betah’ menjadi tahanan di sini. Di mana hamparan harapan,
premonisi dan kegelapan khayali sepakat menandatangani kontrak untuk
berkolaborasi. Bagaimana tidak, kata ‘kapan’ mungkin bisa kutalak
dengan sebuah improvisasi jawaban relatif. Namun kata ‘mau’? Wah
tampaknya kita butuh seorang spesialis di sini.
Kumandang
resital suci yang sedari tadi melantun sejuk terpaksa kubuat berakhir
dari buku catatanku. Kudengar jarum sudah berbisik mengingatkan kalau
penghujung gelap akan menghadiri masa akhir. Tak tersadar kulihat Koko
juga telah sukses tertelan bulat-bulat kamar tidurnya sendiri.
Waktunya telah tiba.
Gemercik
demi gemercik pun coba mengusik sunyi. Lagi-lagi sebuah simpuh kecil
akan pecah di malam ini. Seperti kemarin dan esok. Walau satu jawab
selalu terjawab sama setelahnya.